Archive for Oktober 2012
JUDUL (SAMA) tetapi JENIS TULISAN (BEDA)
Sepakbola
Sejarah olahraga sepak bola dimulai sejak abad ke-2 dan -3 sebelum Masehi di Cina. Di masa Dinasti Han tersebut, masyarakat menggiring bola kulit dengan menendangnya ke jaring kecil. Permainan serupa juga dimainkan di Jepang dengan sebutan Kemari. Di Italia, permainan menendang dan membawa bola juga digemari terutama mulai abad ke-16.
Sepak bola modern mulai berkembang di Inggris dan menjadi sangat digemari. Di beberapa kompetisi, permainan ini menimbulkan banyak kekerasan selama pertandingan sehingga akhirnya Raja Edward III melarang olahraga ini dimainkan pada tahun 1365. Raja James I dari Skotlandia juga mendukung larangan untuk memainkan sepak bola. Pada tahun 1815, sebuah perkembangan besar menyebabkan sepak bola menjadi terkenal di lingkungan universitas dan sekolah. Kelahiran sepak bola modern terjadi di Freemasons Tavern pada tahun 1863 ketika 11 sekolah dan klub berkumpul dan merumuskan aturan baku untuk permainan tersebut. Bersamaan dengan itu, terjadi pemisahan yang jelas antara olahraga rugby dengan sepak bola (soccer). Pada tahun 1869, membawa bola dengan tangan mulai dilarang dalam sepak bola. Selama tahun 1800-an, olahraga tersebut dibawa oleh pelaut, pedagang, dan tentara Inggris ke berbagai belahan dunia. Pada tahun 1904, asosiasi tertinggi sepak bola dunia (FIFA) dibentuk dan pada awal tahun 1900-an, berbagai kompetisi dimainkan diberbagai negara.
Untuk pertandingan internasional dewasa, lapangan sepak bola yang digunakan memiliki panjang yang berkisar antara 100-120 meter dan lebar 65-75 meter. Di bagian tengah kedua ujung lapangan, terdapat area gawang yang berupa persegi empat berukuran dengan panjang 7.32 meter dan tinggi 2.44 meter. Di bagian depan dari gawang terdapat area pinalti yang berjarak 16.5 meter dari gawang. Area ini merupakan batas kiper boleh menangkap bola dengan tangan dan menentukan kapan sebuah pelanggaran mendapatkan hadiah tendangan pinalti atau tidak.
Lama permainan sepak bola normal adalah 2 × 45 menit, ditambah istirahat selama 15 menit di antara kedua babak. Jika kedudukan sama imbang, maka diadakan perpanjangan waktu selama 2×15 menit, hingga didapat pemenang, namun jika sama kuat maka diadakan adu penalti. Wasit dapat menentukan berapa waktu tambahan di setiap akhir babak sebagai pengganti dari waktu yang hilang akibat pergantian pemain, cedera yang membutuhkan pertolongan, ataupun penghentian lainnya. Waktu tambahan ini disebut sebagai injury time atau stoppage time.
Apabila pemain melakukan pelanggaran yang cukup keras maka wasit dapat memberikan peringatan dengan kartu kuning atau kartu merah. Pertandingan akan dihentikan dan wasit menunjukkan kartu ke depan pemain yang melanggar kemudian mencatat namanya di dalam buku. Kartu kuning merupakan peringatan atas pelanggaran seperti bersikap tidak sportif, secara terus-menerus melanggar peraturan, berselisih kata-kata atau tindakan, menunda memulai kembali pertandingan, keluar-masuk pertandingan tanpa persetujuan wasit, ataupun tidak menjaga jarak dari pemain lawan yang sedang melakukan tendangan bebas atau lemparan ke dalam. Pemain yang menerima dua kartu kuning akan mendapatkan kartu merah dan keluar dari pertandingan.
Pemain yang mendapatkan kartu merah harus keluar dari pertandingan tanpa bisa digantikan dengan pemain lainnya. Beberapa contoh tindakan yang dapat diganjar kartu merah adalah pelanggaran berat yang membahayakan atau menyebabkan cedera parah pada lawan, meludah, melakukan kekerasan, melanggar lawan yang sedang berusaha mencetak gol, menyentuh bola untuk mencegah gol, dan menggunakan bahasa atau gerak tubuh yang cenderung menantang
Sepakbola
Saya selalu menyaksikan acara tersebut selama kurang lebih 6 tahun. Tapi saya selalu ingat program acara favorit saya dulu, One Stop Football (yang dulu pembawa acaranya Desy Novianti itu lho!). Yaitu acara yang menyajikan ulasan beragam hal tentang sepakbola tiap hari sabtu (kalo dulu jam 2an kalo gak salah..).
Nah, sebagai dedengkot sepakbola, saya sudah menyaksikan perkembangan sepakbola dunia sejak kelas 2 sd sampai sekarang mahasiswa. Berarti sudah 11 tahun saya mantengin berita sepakbola yang ada.
Disini saya ingin berbagi pengalaman saya soal sepakbola modern saat ini, yang menurut saya dimulai sejak tahun 2008.
Sekarang klub-klub kelas dunia (atau mungkin pelatihnya) cenderung memberi kepercayaan lebih kepada pemain muda sebagai pemain intinya. Contohnya seperti Arsenal, Liverpool, MU, Barcelona dan yang lainnya. Arsenal punya Kieran Gibbs, Jack Wilshere, Oxlade Chamberlain, Lauren Koscielny dan Woicjiah Szcezny. MU punya Rafael dan Fabio Da Silva, Danny Wellbeck, Chris Smalling, David De Gea, dan Tom Cleverley. Liverpool punya Kelly, Andy Caroll. Barcelona punya Sergio Busquets, Thiago Alcantara, Pedro Rodriguez, Isaac Cuenca dan yang lainnya.
Pemain muda ini dianggap layak untuk bermain di kompetisi tertinggi. Stamina yang masih segar menjadikan tempo pertandingan yang dimainkan menjadi cepat. Lihat saja di liga Italia. Dulu liga Italia dikenal dengan permainannya yang lambat cenderung membosankan a k a Catenaccio. Sekarang? saya lihat liga Italia tidak ada bedanya dengan liga Inggris.
Sedangkan Liga Inggris sekarang cenderung memainkan Ball Posession. Tidak lagi menggunakan semboyan Kick n Rush yang artinya ‘Yang Penting Serang’, bola selalu diarahkan ke depan. Sebaliknya, pemain Liga Inggris sekarang lebih cengeng, disenggol sedikit langsung oleng. Tidak bermain keras lagi. Mereka takut dengan kontak fisik, sehingga menggunakan ball posession sebagai cara untuk ‘menghindari’ kontak fisik.
Inilah imbas terlalu cepatnya ‘orbitan’ pemain muda yang belum matang secara mental. Secara permainan memang lebih cepat, tetapi kualitas bermain secara keseluruhan, mereka masih kalah dengan dengan senior mereka dulu.
Ini terjadi dengan Arsenal. Setelah menggunakan pemain muda sejak 2006. Tidak ada gelar bergengsi yang berhasil mereka raih hingga saat ini.
Sebenarnya tidak salah menempatkan pemain muda sebagai bagian pemain inti. Tetapi hal itu juga harus diimbangi dengan menyisipkan pemain senior di dalam skuadnya.
Musim lalu MU harus dipermalukan 6-1 oleh Manchester City. Mari kita lihat. Skuad City saat itu rata-rata adalah pemain yang sudah berpengalaman. Macam Silva, Yaya Toure, Joleon Lescott, Vincent Kompany, Kolo Toure, Tevez, dll.
Bahkan musim lalu MU sampai harus memanggil kembali Paul Scholes yang sudah pensiun untuk memimpin para pemain muda MU.
Contoh Lain, Arsenal. Mereka dibilang Barcelonanya Inggris , tapi hasilnya? nol besar. Itu karena mereka tidak punya pemain senior untuk menopang tim mereka. Bayangkan saja barisan pertahanan mereka. Pemain Macam Koscielny, Sczezny, dan Kieran Gibbs jadi pemain inti? Hasilnya mereka ditekuk AC MIlan 4-0 di Sansiro. Dan dipencundangi MU 8-2!
Berbeda sekali dengan Arsenal 8 tahun yang lalu. Rata-rata pemainnya kelas 1 semua. Thierry Henry, Dennis Bergkamp, Patrick Vieira, Ashley Cole, Gilberto Silva, Robert Pires, Sol Campbell cs.
Media juga menjadi salah satu faktor pemain muda merajalela di klub besar. Pemain muda 19 tahun sudah disorot media sana-sini. Akibatnya klub besar tergiur dengan pemain tersebut. Selain harganya murah, pemain tersebut ‘diharapkan’ menjadi bintang masa depan. Banyak kasus pemain muda yang cepat terekspos, tapi karirnya jeblok. Robinho, Klas Jan Huntelaar, Stuart Downing, Cicinho dan lain-lain. Enam tahun yang lalu, mereka gencar diberitakan sebagai bintang masa depan. Hasilnya saat ini? Mereka tidak berhasil memenuhi harapan publik tentang kemampuan mereka.
Sepakbola 6 tahun yang lalu tidak seperti ini. Saya melihat jelas perbedaanya. Dulu, hanya pemain berkualitas dan matang saja yang berhak masuk tim inti. Pemain bau kencur, biasanya hanya sebagai pelapis.
Saya harap klub-klub besar kembali ke pakem ‘Pemain Senior’. Akan terlalu riskan memberi tanggung jawab yang besar pada pemain muda.
Menumbuhkan Etika dan Sikap Bahasa yang Positif Terhadap Bahasa Indonesia
Bahasa
merupakan perkataan-perkataan yang digunakan sebagai alat komunikasi
untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Sebagai alat komunikasi, bahasa
tentunya mempunyai aturan-aturan tertentu yang disesuaikan dengan
situasi dan komunikan yang menggunakannya. Peribahasa mengatakan bahasa
menunjukan bangsa, hal ini secara tidak langsung mengatakan bahwa
perilaku berbahasa seseorang dapat dijadikan tolak ukur keberadaban
suatu bangsa.
Tidaklah salah jika pepatah mengatakan bahasa adalah
cerminan pribadi seseorang, karena melalui tutur kata kita dapat menilai
pribadi seseorang. Tutur kata yang baik, lemah lembut, sopan-santun,
orang akan mencitrakan kita sebagai pribadi yang baik dan berbudi
sebaliknya apabila perkataan seseorang buruk maka citraan buruklah yang
akan melekat kepada pribadi orang tersebut. Kenapa demikian? Karena
bahasa juga dapat menjadi alat kekerasan verbal yang terwujud dalam
tutur kata seperti memaki, memfitnah, menghasut, menghina, dan lain
sebagainya. Hal itu akan berdampak negatif terhadap perilaku seseorang
seperti permusuhan, perkelahian, aksi anarkisme, provokasi dan
sebagainya.
Di dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan eufemisme yaitu
gaya bahasa pelembut dengan cara menggantikan kata-kata dengan kata
lain yang lebih sesuai dan tidak menyinggung perasaan.
Contonya seperti
dalam kalimat ” Dimana tempat kencingnya?” diganti dengan ”Dimana kamar
kecilnya?” Kata “tempat kencing”(dalam bahasa sehari-hari biasa juga disebut WC) tidak cocok jika akan digunakan untuk percakapan yang sopan. Kata kamar kecil dapat menggantikannya. Kata kamar kecil ini konotasinya lebih sopan daripada kata tempat kencing. Jadi dalam eufemisme
terjadi pergantian nilai rasa dalam percakapan dari kurang sopan
menjadi lebih sopan. Beberapa waktu yang lalu, ketika lagi serunya
membicarakan kasus bail out bank century, bahkan sekarang ini mereka sibuk dengan pasar ikan, ada yang jualan teri bahkan jualan piranha. Sungguh
disayangkan anggota DPR yang notebene terhormat sering menggunakan
intonasi yang tinggi sehingga terkesan saling mencaki-maki satu sama
lainnya, lebih-lebih lagi dengan apa yang dilakukan oleh Ruhut Sitompul
dan Gayus Lumbuun dalam perang mulut menggunakan kata-kata yang tidak
pantas (kasar) sehingga memberi kesan buruk bagi masyarakat.
Begitupun dengan ungkapan mulutmu harimaumu–segala
perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu
akan dapat merugikan diri sendiri. Apalagi kata-kata itu berisi
kebohongan yang dapat menimbulkan fitnah. Peribahasa mengatakan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”, begitu dahsyatnya kata-kata yang diucapkan sehingga lebih buruk dari menghilangkan nyawa sekalipun. Berapa banyak persaudaraaan yang terputus karena tikaman lidah dan gigitan harimau.
Diberdayakan oleh Blogger.