Entri Populer

free counters

Recent Comments

Unknown On Senin, 08 Oktober 2012

Bahasa merupakan perkataan-perkataan yang digunakan sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Sebagai alat komunikasi, bahasa tentunya mempunyai aturan-aturan tertentu yang disesuaikan dengan situasi dan komunikan yang menggunakannya. Peribahasa mengatakan bahasa menunjukan bangsa, hal ini secara tidak langsung mengatakan bahwa perilaku berbahasa seseorang dapat dijadikan tolak ukur keberadaban suatu bangsa. 

Tidaklah salah jika pepatah mengatakan bahasa adalah cerminan pribadi seseorang, karena melalui tutur kata kita dapat menilai pribadi seseorang. Tutur kata yang baik, lemah lembut, sopan-santun, orang akan mencitrakan kita sebagai pribadi yang baik dan berbudi sebaliknya apabila perkataan seseorang buruk maka citraan buruklah yang akan melekat kepada pribadi orang tersebut. Kenapa demikian? Karena bahasa juga dapat menjadi alat kekerasan verbal yang terwujud dalam tutur kata seperti memaki, memfitnah, menghasut, menghina, dan lain sebagainya. Hal itu akan berdampak negatif terhadap perilaku seseorang seperti permusuhan, perkelahian, aksi anarkisme, provokasi dan sebagainya.

Di dalam bahasa Indonesia kita kenal dengan eufemisme yaitu gaya bahasa pelembut dengan cara menggantikan kata-kata dengan kata lain yang lebih sesuai dan tidak menyinggung perasaan. 

Contonya seperti dalam kalimat ” Dimana tempat kencingnya?” diganti dengan ”Dimana kamar kecilnya?” Kata “tempat kencing”(dalam bahasa sehari-hari biasa juga disebut WC) tidak cocok jika akan digunakan untuk percakapan yang sopan. Kata kamar kecil dapat menggantikannya. Kata kamar kecil ini konotasinya lebih sopan daripada kata tempat kencing. Jadi dalam eufemisme terjadi pergantian nilai rasa dalam percakapan dari kurang sopan menjadi lebih sopan. Beberapa waktu yang lalu, ketika lagi serunya membicarakan kasus bail out bank century, bahkan sekarang ini mereka sibuk dengan pasar ikan, ada yang jualan teri bahkan jualan piranha. Sungguh disayangkan anggota DPR yang notebene terhormat sering menggunakan intonasi yang tinggi sehingga terkesan saling mencaki-maki satu sama lainnya, lebih-lebih lagi dengan apa yang dilakukan oleh Ruhut Sitompul dan Gayus Lumbuun dalam perang mulut menggunakan kata-kata yang tidak pantas (kasar) sehingga memberi kesan buruk bagi masyarakat.

Begitupun dengan ungkapan mulutmu harimaumu–segala perkataan yang terlanjur kita keluarkan apabila tidak dipikirkan dahulu akan dapat merugikan diri sendiri. Apalagi kata-kata itu berisi kebohongan yang dapat menimbulkan fitnah. Peribahasa mengatakan fitnah lebih kejam daripada pembunuhan”, begitu dahsyatnya kata-kata yang diucapkan sehingga lebih buruk dari menghilangkan nyawa sekalipun. Berapa banyak persaudaraaan yang terputus karena tikaman lidah dan gigitan harimau. 

Sebagai bangsa yang beradab sudah semestinya kita menjaga perilaku berbahasa baik dalam situasi formal maupun informal yang mampu menciptakan suasana komunikasi yang baik sehingga mampu mewujudkan kehidupan bangsa yang bermartabat.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Diberdayakan oleh Blogger.